Total Tayangan Halaman

Kamis, 07 April 2011

LM SMT 3

LATIHAN MANDIRI ( LM )
Petunjuk Khusus :
I.       Silanglah huruf di depan jawaban yang paling tepat!
1.      Ensiklopedi dapat dijadikan suatu bahan rujukan karena memuat informasi . . .
A.  mendasar namun lengkap mengenai sesuatu hal
C. asal-ususl suatu kata dan pengertiannya
B.  berbagai peristiwa yang pernah terjadi di seluruh dunia
A. asal-usul dan peristiwa yang terjadi dalam suatu Negara
2.      Bahan rujukan yang memberikan informasi mengenai petunjuk bagaimana melakukan atau melaksanakan suatu proses, adalah . . .
A. direktori
C. buku pegangan
B. kamus
D. buku rujukan
3.      Bahan rujukan yang menerangkan segala sesuatu yang berkaitan dengan kata, makna, ejaan, lafal, penyukuan adalah . . .
A. thesaurus
C. kamus
B. direktori
D. ensiklopedi
4.      Kamus yang memuat antara 130.000 sampai 160.000 termasuk jenis kamus . . .
A. concise dictionary
C. unabridged dictionary
B. abridged dictionary
D. unconcised dictionary
5.      Online Public Access Catalogue (OPAC) merupakan bentuk katalog yang berbasiskan . .
A. data pada lembaran kertas
C. cetakan berbentuk kartu
B. data pada computer
D. cetakan berbentuk buku
6.      Kemutakhiran, skala dan indeks merupakan hal-hal yang perlu diperhatikan kalau kita sedang melakukan penilaian terhadap . . .
A. sumber biografi
C. sumber statistik
B. sumber geografi
D. ensiklopedi
7.       Cakupan isi perlu diperhatikan dalam menilai buku petunjuk, karena harus sesuai dengan. . .
A. kebutuhan pemakai
C. kegiatan institusi
B. peralatan yang digunakan
D. proses penggunaan peralatan
8.      Dalam layanan rujukan pustakawan berfungsi sebagai jembatan karena pustakawan . ..
A. mengenal dengan baik karakteristik pengguna maupun koleksi rujukan
C. bertugas dalam penilaian koleksi rujukan
B. mengetahui seluk beluk layanan rujukan
D. berfungsi sebagai mitra bagi pengguna
9.      Membantu pengguna dalam menelusur literatur menggunakan katalog, bibliografi dan alat penelusuran lainnya, salah satu pekerjaan dari . . .
A. pelayanan rujukan pokok
C. pelayanan rujukan penunjang
B. pelayanan sirkulasi
D. pelayanan bimbingan pengguna
10.  Bimbingan yang diberikan kepada pemakai agar mampu menggunakan koleksi dan sumber-sumber rujukan, merupakan pengertian . . .
A. bimbingan pengguna
C. layanan rujukan pokok
B. bimbingan langsung
D. bimbingan akademis
11.  Segala terbitan mengenai Indonesia yang terbit di dalam maupun di luar Indonesia termasuk dalam lingkup . . .
A. bibliografi Nasional Indonesia
C. Bibliografi subyek Indonesia
B. Bibliografi Indonesiana
D. Bibliografi universal Indonesia
12.  Sumber biografi yang memuat informasi mengenai uraian sejarah tentang kejadian tertentu menurut pandangan seorang tokoh adalah . . .
A. biografi
C. memorandum
B. autobiografi
D. memoar
13.  Pengawasan bibliografi perlu dilakukan agar . . .
A. semua terbitan di suatu negara dapat dimonitor
C. jumlah penerbit di negara tersebut diketahui dengan pasti
B. penggunaan terbitan di suatu negara dapat diketahui
D. perpustakaan dapat mengeluarkan daftar tambahan terbitan
14.  Dalam melakukan pengawasan bibliografi, ada hal-hal yang perlu diperhatikan seperti kelengkapan suatu informasi bibliografi. Kegiatan tersebut melaksanakan salah satu fungsi pengawasan bibliografi dari segi . . .
A. identifikasi dan verifikasi
C. seleksi
B. lokasi
D. pemrosesan
15.   Praktek pengawasan bibliografi di Indonesia didukung dengan adanya suatu undang-undang yaitu . . .
A. Undang-Undang Penerbitan di Indonesia
C. Undang-Undang Perpustakaan Indonesia
B. Undang-Undang Wajib Serah Simpan Karya Cetak dan Rekam
D. Undang-Undang Standardisasi karya cetak dan rekam

II.      Opsi pilihan Jawaban :
A. Jika 1 & 2 Benar.
B. Jika 1 & 3 Benar.
C. Jika 2 & 3 Benar
D. Jika Semuanya Benar
16.     Bila ditinjau dari cakupan isinya, sumber biografi dapat dibagi sebagai berikut . . .
1. biografi umum universal
2. biografi umum nasional
3. biografi khusus
17.     Suatu tulisan yang dipresentasikan dalam pertemuan atau konferensi, adalah . . .
1. preprint
2. meeting paper
3. makalah pertemuan
18.     Majalah terutama majalah ilmiah dapat dimasukkan salah satu bahan rujukan, karena . . .
1. memuat hasil-hasl penelitian
2. kajian sebuah teori baru
3. penjelasan sebuah gagasan atau ide suatu bidang ilmu pengetahuan
19.     Untuk menilai otoritas bahan rujukan perlu diperhatikan hal-hal berikut . . .
1. kualifikasi pengarang atau penyunting
2. pengetahuan pustakawan tentang subyek tertentu
3. memeriksa data pengarang dalam sumber biografi
20. Bibliografi rujukan perlu diawasi juga keberadaannya, karena bibliogafi ini dapat berguna untuk memperkenalkan pemakai pada . . .
1. bahan rujukan umum yang dapat membantu penelitian bidang keahlian pemakai
2. bahan rujukan khusus yang dapat membantu penelitian bidang keahlian khusus
3. bahan rujukan yang dapat membantu dalam melakukan penelitian lintas bidang


LM SMT 1-2

LATIHAN MANDIRI ( LM )
Petunjuk Khusus :
Kerjakan soal dibawah ini dengan singkat, jelas dan sistematis!

1. Jelaskan cara pelestarian bahan pustaka di Negara :
a. USA
b. Puerto Rico ( Amerika Latin )
2. Apa pendapat saudara mempercayai bahwa bidang pelestarian merupakan bidang yang sangat penting untuk meningkatkan pelayanan perpustakaan.
3. Sebutkan dan jelaskan jenis organisasi dalam bidang pelestarian!
4. Sebutkan tugas utama konservator?
5. Apa yang saudara ketahui tentang penyusunan program pelestarian perpustakaan?
Selamat Mengerjakan

Teknik Membaca Skimming

Dalam membaca cepat dikenal teknik skimming dan scanning. Sekilas kedua cara ini sepertinya sama, meskipun sebenarnya berbeda. Skimming dilakukan untuk melakukan pembacaan cepat secara umum dalam suatu bahan bacaan. Dalam skimming, proses membaca dilakukan secara melompat-lompat dengan melihat pokok-pokok pikiran utama dalam bahan bacaan sambil memahami tema besarnya. Sementara scanning adalah mencari satu jenis informasi tertentu dalam bahan bacaan.

Pada tulisan berikut saya akan membahas teknik skimming dan bagaimana cara memanfaatkannya.

Bayangkan jika Anda harus membaca buku setebal 300 halaman. Apakah yang harus Anda lakukan terlebih dahulu?

Apakah langsung mulai membaca dari halaman pertama sampai terakhir?

Apakah membaca halaman paling depan, halaman belakang dan daftar isi terlebih dahulu?

Jika Anda berencana membaca suatu buku dengan halaman yang cukup banyak misalkan 50 – 300 halaman, maka hal pertama yang perlu dilakukan adalah melihat sekilas apa yang dibahas dalam buku tersebut. Dalam proses membaca, teknik ini dikenal dengan istilah melakukan preview atas isi buku. Dan untuk melakukannya digunakan skimming.



Bagaimana Melakukan skimming?


Skimming dilakukan dengan cara membaca judul bab, sub bab, dan beberapa alinea pertama dalam setiap bab-nya. Jika buku tersebut memuat kesimpulan dalam tiap bab, maka Anda dapat pula membaca sekilas ringkasan tadi.

Fungsi skimming adalah mendapatkan ide utama tentang topik bacaan, bukan detailnya. Jadi skimming dapat dikatakan berhasil jika Anda bisa mendapatkan ide pokok dan bisa membayangkan apa yang dibahas dalam keseluruhan isi buku secara umum.

Proses skimming ini sangat berharga sebelum Anda membaca secara mendalam halaman demi halaman. Dengan skimming Anda mempersiapkan otak untuk menghadapi bahan bacaan yang sesungguhnya. Selain itu skimming juga berguna menciptakan rasa ingin tahu, memastikan apakah buku yang akan dibaca sesuai dengan yang diharapkan, dan mendapatkan pokok cerita.

Fungsi Skimming


Selain untuk melakukan pembacaan sekilas, skimming juga berguna dalam banyak proses membaca lainnya. Adapun beberapa alasan mengapa skimming dapat dilakukan tanpa harus terlalu khawatir kehilangan makna adalah:

  • Kebanyakan kalimat hanya memiliki beberapa kata penting yang menjadi pembentuk strukturnya. Dengan menghilangkan kata-kata lain yang tidak terlalu penting, maka makna kalimat sudah dapat ditangkap tanpa harus kehilangan makna sesungguhnya. Pada kesempatan yang akan datang saya akan membahas hal ini yang dikenal pula dengan nama telegraphic reading.
  • Dalam bahan bacaan yang cukup tebal, tidak semua bagian memiliki tingkat kesulitan yang sama. Ada bagian tertentu yang memang relatif lebih ringan dan mudah dipahami dibandingkan dengan bagian yang lain. Bagian yang ringan dapat dibaca dengan sangat cepat lewat skimming sedangkan bagian yang lebih sulit dibaca secara lebih lengkap dan teliti.
  • Ada kata-kata tertentu yang sangat penting dan berperan dalam membentuk struktur kalimat yakni subjek dan predikat. Masing ingat pelajaran bahasa Indonesia dulu? Subjek-Predikat-Objek-Keterangan (SPOK)? Dengan menguasai struktur kalimat dalam bahan bacaan dan menguasai terutama Subjek dan Predikat, maka inti bacaan sudah dapat dikenali. Karena itu, berfokuslah pada kata benda dan kata kerja. Selain itu, kuasai pula kata-kata penghubung yang bisa mengubah makna kalimat secara nyata jika kata-kata tersebut dihilangkan. Kata-kata tersebut antara lain: tidak, bukan, meskipun, akan tetapi, sebaliknya, pada sisi yang lain, dst.



Proses Skimming


Karena skimming berguna untuk mendapatkan gambaran umum suatu bahan bacaan, maka perlu koordinasi yang baik ketika melakukan skimming dengan otak yang aktif bertanya, menganalisa, membandingkan, serta membuat kesimpulan.

Oleh karena itu, jangan dianggap skimming seperti membaca sambil lalu. Sebaliknya, dibutuhkan proses membaca aktif di mana semua indera yang terlibat bekerja, mulai dari mata, otak, bahkan indra lain seperti penciuman dan pendengaran. Membaca aktif adalah ketika Anda seolah-olah masuk ke dalam bahan bacaan itu sendiri dan bisa mendengar, mencium serta merasakan apa-apa yang dituliskan.

Berikut adalah bagian-bagian penting yang perlu diperhatikan ketika melakukan skimming:

  • Baca cover atau jacket buku yang biasanya menjelaskan tema besar buku tersebut dan mengapa buku tersebut penting buat Anda
  • Baca kata pengantar. Banyak orang malas membaca pengantar karena dianggap basa-basi. Hal tersebut keliru. Kata pengantar seringkali sangat penting karena penulis biasanya menjelaskan proses penulisan buku tersebut dari awal sampai selesai serta pendekatan yang digunakannya. Dari kata pengantar Anda bisa mendapat gambaran apakah buku yang sedang dipegang memang layak untuk dibaca sampai selesai atau sebenarnya tidak penting buat Anda. Bagian yang berupa ucapan terima kasih, penghargaan dan sejenisnya bisa dilewatkan.
  • Baca daftar isi. Ya, banyak orang juga melewati bagian ini dan langsung melompat ke bab pertama. Ingat, daftar isi memberi gambaran struktur pembahasan dalam buku. Ini akan membantu Anda menguasai bahan bacaan dalam konteks yang besar dan lengkap. Selain itu, tidak setiap bab penting untuk dibaca. Ada bab-bab yang bisa jadi sudah Anda pahami dari buku-buku yang pernah dibaca sebelumnya sehingga bisa dilewatkan atau dibaca sekilas saja. Energi yang lebih besar nantinya dapat difokuskan pada informasi baru yang memang perlu Anda kuasai dari bahan bacaan tersebut.
  • Baca judul bab, sub judul dan heading. Amati diagram, gambar dan keterangan tambahan. Secara cepat baca setiap halaman hanya 1-2 detik saja. Baca judul bab, sub judul, heading serta amati secara singkat gambar atau diagram yang menjadi penjelas bab tersebut. Dapatkan ide pokok hanya dari judul tadi. Ingat, Anda juga telah menguasai struktur penulisan ketika mempelajari daftar isi sebelumnya.

Demikianlah teknik skimming yang dapat Anda lakukan sebelum membaca keseluruhan isi buku dengan lebih detail. Dengan skimming, Anda dapat menguasai isi buku secara umum dalam tempo yang singkat sekaligus mempersiapkan diri untuk pembacaan yang lebih menuntuk konsentrasi. Untuk buku dengan ketebalan 100 halaman, Anda mungkin perlu melakukan skimming sekitar 5-7 menit saja. Dan 5 menit yang dihabiskan tadi akan sangat membantu dalam pemahaman keseluruhan terhadap konteks bahan bacaan.

Selamat mencoba!

Anda punya pengalaman terkait teknik membaca skimming? Silakan berbagi pengalaman Anda.

 By :http://www.muhammadnoer.com

Meningkatkan Layanan Perpustakaan Menciptakan Minat Baca Masyarakat


Membaca merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan. Membaca juga merupakan ilmu yang tidak akan pernah habis dan akan selalu berkembang. Ilmu lahir sejak keingintahuan manusia akan hal sesuatu, sehingga ilmu akan terus berkembang. Pengetahuan yang diperoleh dalam membaca akan meningkatkan harkat dan martabat, kinerja, dan produktivitas seseorang. Ilmu yang di dapatkan dalam membaca, bisa diterapkan atau diberikan kepada masyarakat yang belum mengerti akan hal sesuatu yang anda miliki. Membaca juga merupakan hal yang penting dalam meningkatkan kemajuan bangsa. Buku merupakan jendela dunia ilmu pengetahuan, tentunya untuk mengetahui apakah buku itu berkualitas atau tidak, salah satu jalan adalah harus membaca buku tersebut. Mengerti dan memahami isi bacaan adalah hal yang sangat penting untuk mengetahui apa saja yang terdapat di dalam buku bacaan, tentunya bila mengerti isi buku bacaan maka akan memberikan pengetahuan yang baru.
Minat baca dikalangan masyarakat masih sangat rendah, kurangnya minat baca dalam masyarakat dikarenakan tidak adanya waktu membaca dan langkanya buku bacaan. Pada masyarakat di perkotaan, terdapat jenis hiburan untuk menghabiskan waktu daripada membaca buku. Sedangkan pada masyarakat di daerah terpencil tidak adanya sarana dan prasarana yang memadai untuk membaca seperti buku dan perpustakaan yang masih kurang dalam hal pembaharuan buku.
Peran perpustakaan dalam menyediakan buku bacaan sangat penting keberadaannya, karena dengan adanya perpustakaan sebagian besar masyarakat umum dapat menikmati buku bacaan mereka. Tak dapat dipungkiri bahwa tingkat pengetahuan bangsa pada umumnya dan masyarakat khususnya sangatlah rendah, salah satunya disebabkan oleh kurangnya minat serta perhatian masyarakat mengenai pentingnya membaca. Tentunya hal ini dapat menjadi boomerang bagi kelangsungan perkembangan pengetahuan masyarakat, dan sudah pasti menjadi tolak ukur bagi keberadaan perpustakaan sebagai penyedia buku-buku yang berpengetahuan.
1.2 Permasalahan
Permasalahan dalam meningkatkan layanan perpustakaan untuk menciptakan minat baca masyarakat adalah rendahnya minat baca di kalangan masyarakat khususnya kalangan ekonomi rendah dan kurangnya layanan perpustakaan di daerah perkotaan maupun di daerah terpencil.
1.3 Tujuan
Tujuan artikel ini adalah untuk meningkatkan layanan perpustakaan bagi masyarakat sehingga menciptakan budaya baca di kalangan masyarakat.
II. LANDASAN TEORI
Minat baca dikalangan masyarakat masih sangat rendah, kurangnya minat baca dalam masyarakat dikarenakan tidak adanya waktu membaca dan langkanya buku bacaan. Tidak adanya waktu untuk membaca biasanya terjadi pada masyarakat yang ekonomi rendah. Masyarakat yang ekonomi rendah harus berjuang dalam hal pekerjaan untuk menghidupi keluarganya. Sebagai contoh, seorang penjual nasi pecel keliling, petani yang harus pergi kesawah pada pagi hari dan pulang sore hari, dan lain sebagainya (Agus M Irkham, 2004).
Contoh diatas merupakan kejadian yang real (nyata) yang terjadi di setiap hari. Pekerjaan tersebutlah yang membuat mereka tidak punya waktu untuk membaca buku. Bagi masyarakat kalangan ekonomi keatas mereka mempunyai waktu untuk membaca, karena pekerjaan mereka tidak terlalu berat dan tidak memakan waktu yang lama. Apalagi mereka dapat membeli buku-buku yang mereka inginkan. Tetapi pada saat ini masyarakat kalangan ekonomi keatas juga tidak adanya waktu untuk membaca, hal ini dikarenakan banyaknya tempat-tempat hiburan bagi mereka untuk menghabiskan waktu.
Menurut Arixs (2006) pada makalah yang berjudul “Enam Penyebab Rendahnya Minat Baca”. Enam penyebabnya adalah sebagai berikut :
1.         Sistem pembelajaran di Indonesia belum membuat anak-anak/siswa/mahasiswa harus membaca buku (lebih banyak lebih baik), mencari informasi/pengetahuan lebih dari apa yang diajarkan, mengapresiasi karya-karya ilmiah, filsafat, sastra dan sebagainya.
2.         Banyaknya jenis hiburan, permainan (game) dan tayangan TV yang mengalihkan perhatian anak-anak dan orang dewasa dari buku, surfing di internet walaupun yang terakhir ini masih dapat dimasukkan sebagai sarana membaca. Hanya saja apa yang dapat dilihat di internet bukan hanya tulisan tetapi hal-hal visual lainnya yang kadangkala kurang tepat bagi konsumsi anak-anak.
3.         Banyaknya tempat hiburan untuk menghabiskan waktu seperti taman rekreasi, tempat karaoke, night club, mall, supermarket dan sebagainya.
4.         Budaya baca memang belum pernah diwariskan nenek moyang kita. Kita terbiasa mendengar dan belajar berbagai dongeng, kisah, adat-istiadat secara verbal dikemukakan orangtua, tokoh masyarakat, penguasa pada zaman dulu.
5.         Para ibu, saudari-saudari kita senantiasa disibukkan berbagai kegiatan upacara-upacara keagamaan serta membantu mencari tambahan nafkah untuk keluarga, sehingga tiap hari waktu luang sangat minim bahkan hampir tidak ada untuk membantu anak membaca buku.
6.         Sarana untuk memperoleh bacaan, seperti perpustakaan atau taman bacaan, masih merupakan barang aneh dan langka.
Salah satu upaya untuk merangsang daya minat baca masyarakat yaitu dengan adanya penyediaan perpustakaan yang memiliki sarana dan prasarana yang memadai. Perpustakaan merupakan pusat terkumpulnya berbagai informasi dan ilmu pengetahuan baik yang berupa buku maupun bahan rekaman lainnya yang diorganisasikan untuk dapat memenuhi kebutuhan masyarakat (Mudjito, 2008).  Perpustakaan harus memiliki tempat khusus murid-murid Taman Kanak-kanak untuk belajar membaca dan melakukan permainan. Dalam pembelajaran murid-murid TK juga diselingi dengan adanya pemutaran film untuk anak-anak. Untuk meningkatkan minat baca, harus dimulai dari usia sangat dini karena minat ini tumbuh sebagai hasil kebiasaan membaca. Peran orangtua sangat penting dalam meningkatkan minat baca anak (Arixs, 2006).
III. PEMBAHASAN
Upaya untuk meningkatkan kecerdasan bangsa tidak harus selalu melalui jalur pendidikan formal saja, akan tetapi dapat juga melalui jalur pendidikan nonformal. Oleh karena itu, diperlukan adanya sarana komunikasi informasi ilmu pengetahuan untuk disampaikan kepada masyarakat yaitu perpustakaan (Mudjito, 2008). Dengan adanya perpustakaan masyarakat dapat memanfaatkannya sebagai sarana informasi ilmu pengetahuan dan menciptakan budaya baca. Perpustakaan memberikan layanan berupa membaca buku di tempat dan meminjam buku bacaan, sehingga masyarakat kalangan ekonomi rendah tidak perlu membeli buku dengan harga yang mahal.
Lokasi perpustakaan yang ada sekarang ini, mungkin bagi sebagian masyarakat kota sangat mudah di jangkau. Tapi bagaimana dengan masyarakat pedesaan? Tentunya mereka juga ingin menikmati fasilitas perpustakaan dan menambah pengetahuan mereka agar tidak ketinggalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan pada saat ini. Jauhnya jarak antara pedesaan dan kota membuat masyrakat pedesaan tidak bisa menikmati perpustakaan yang berada di kota. Oleh karena itu, badan perpustakaan harus bertindak cepat dengan meningkatkan sarana dan prasarana perpustakaan keliling yang sudah dimiliki, agar masyarakat dan pembinaan minat baca harus dilakukan pada usia dini, karena minat baca tumbuh dari kebiasaan membaca. Dari pembinaan mulai sejak dini maka akan tercipta budaya baca yang sangat tinggi di masa datang. Perpustakaan keliling harus dilakukan secara berkesinambungan, apabila tidak maka masyarakat pedesaan khususnya anak-anak akan ketinggalan informasi.
Bukan hanya perpustakaan keliling yang dilakukan tetapi membangun gedung perpustakaan di daerah pedeesaan atau pendalaman, walaupun gedung tersebut hanya dari bahan kayu. Dengan adanya perpustakaan tersebut, bisa membuat masyarakat atau anak-anak mau untuk membaca dan mengasah pengetahuan. Biasanya masyarakat atau anak-anak pedesaan atau pendalaman semangat untuk belajar sangat tinggi dibandingkan dengan anak perkotaan. Anak perkotaan sangat rendah dalam minat membaca atau belajar dikarenakan di perkotaan banyaknya jenis hiburan seperti, permainan (game) dan tayangan TV yang mengalihkan perhatian anak-anak dan orang dewasa dari buku, bahkan internet yang di salah gunakan oleh kalangan anak-anak dan orang dewasa. Sedangkan di pedesaan atau pendalaman hanya sedikit hiburan bahkan mungkin tidak ada sama sekali hiburan seperti di perkotaan. Hal inilah yang harus diperhatikan oleh badan perpustakaan dan pemerintah daerah khususnya, dari sini akan tercipta budaya baca yang sangat tinggi.
Salah satu selogan perpustakaan adalah “Selangkah menuju perpustakaan, sejuta ilmu didapat”. Selogan ini tentunya harus selaras dengan keberadaan suatu perpustakaan itu sendiri. Menurut pendapat beberapa masyarakat, buku-buku yang tersedia di perpustakaan kebanyakan sudah tidak terlalu penting lagi untuk dibaca, dalam artian bahwa buku yang ada sudah sangat ketinggalan informasinya. Seharusnya perpustakaan mampu menyediakan buku-buku terbaru guna mengikuti perkembangan zaman modern. Keanekaragaman koleksi buku-buku dan informasi yang berkualitas dan sesuai dengan tuntutan kebutuhan masyarakat, hal ini akan dapat mendorong minat masyarakat untuk berkunjung dan memanfaatkan layanan jasa perpustakaan.. Zaman modern saat ini penuh dengan teknologi yang sangat canggih dan akan selalu berkembang. Salah satu contoh adalah banyaknya jasa warnet menyediakan internet yang mencakup tentang informasi berbagai hal yang ada di dunia, hal ini membuat masyarakat atau mahasiswa lebih tertarik untuk menikmati akses internet karena lebih cepat mendapatkan informasi dan terbaru, daripada membaca buku yang sudah beberapa kali dibaca.
Perpustakaan harus dapat menyediakan sarana dan prasarana dimana pustakawan dan pengguna perpustakaan dapat menggunakan Internet. Dalam hal ini, perpustakaan menyediakan sejumlah komputer sebagai terminal yang terhubung ke Internet. Penyediaan layanan akses ini bertujuan untuk memperoleh informasi yang bersumber dari Web, yang diperlukan untuk mendukung kegiatan proses belajar-mengajar, pencarian data, penelitian dan lain sebagainya. Penggunaan jasa internet ini perlu pengontrolan dari pustakawan, agar pengguna internet ini tidak membuka situs-situs yang merusak moral. Dengan adanya internet ini, perpustakaan akan terus didatangi masyarakat dalam hal mencari informasi dan sekaligus menjadi tempat membaca yang ideal bagi masyarakat yang mendatangi perpustakaan. Permasalahan yang lain adalah koleksi buku yang lambat diperbaharui atau ketinggalan informasi. Hal ini yang membuat masyarakat jarang mendatangi perpustakaan, masyarakat lebih memilih jasa internet untuk mencari informasi. Sebaiknya perpustakaan menyediakan buku-buku terbaru sesuai dengan perkembangan zaman, agar masyarakat lebih tertarik untuk membaca.
Perubahan-perubahan tidak hanya dilakukan oleh badan perpustakaan, tetapi perubahan harus dilakukan oleh masyarakat. Perubahan tersebut adalah kesadaran peminjaman buku perpustakaan. Pada makalah yang berjudul “Banyak dikunjung Mahasiswa, Satu Tahun 100 Buku Tak Kembali”, dalam makalah tersebut berisi Setiap tahun kata lebih 100 buku tak dikembalikan peminjam atau hilang. Setiap bulannya, buku yang hilang bisa mencapai 20 sampai 30 buku (Mukhransyah, 2006). Mahasiswa atau masyarakat seharusnya menyadari bahwa buku-buku yang mereka pinjam merupakan masa depan bangsa Indonesia. Berarti mahasiswa atau masyarakat yang meminjam buku dan tidak mengembalikannya merupakan salah satu oknum yang membuat generasi Indonesia tidak berkembang dalam hal membaca dan tidak menutup kemungkinan Indonesia akan terus tertinggal oleh negara lain yang tingkat kepintarannya terus berkembang.
Perpustakaan juga perlu mengadakan sosialisasi atau penyuluhan kepada masyarakat umum mengenai budaya membaca. Sosialisasi atau penyuluhan dilakukan pada daerah pedesaan yang relatif masyarakatnya banyak yang tidak bisa membaca, khususnya dalam lingkungan keluarga yang tidak mampu atau ekonomi rendah. Masyarakat yang tidak bisa membaca atau buta huruf mudah sekali tertipu oleh oknum-oknum yang memanfaatkannya. Hal seperti inilah yang sering sekali dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang ingin menipu. Dengan adanya sosialisasi atau penyuluhan tentang arti membaca, maka masyarakat yang tidak bisa membaca akan memahami akan arti pentingnya membaca dalam kehidupan sehari-hari. Agar sosialisasi atau penyuluhan berjalan dengan lancar dan terus menerus bekerja, maka dibutuhkan suatu karyawan yang mau untuk bekerja di daerah pedesaan atau pendalaman yang jauh dari kota. Dalam hal ini Badan Perpustakaan bersedia memberikan pesangon atau gaji kepada karyawan sesuai dengan kebutuhan hidup di pedesaan atau pendalaman. Dan juga adanya pembangunan perpustakaan sederhana yang di dukung dengan buku-buku yang berkualitas. Masyarakat tidak perlu lagi mengeluarkan biaya yang mahal untuk membeli buku tetapi dapat membaca buku dengan gratis tanpa biaya di perpustakaan sederhana tersebut.
Untuk di daerah perkotaan, perpustakaan perlu mengadakan terobosan guna menarik para masyarakat untuk membaca. Mungkin dengan diadakannya jalan santai yang dapat diikuti oleh semua kalangan masyarakat dan adanya hadiah yang menarik. Sebelum memberikan hadiah bagi yang beruntung, Kepala Perpustakaan memberikan sosialisasi kepada kalangan masyarakat tentang pentingnya membaca dan pihak perpustakaan membagikan buku-buku yang bermanfaat kepada masyarakat yang mengikuti jalan santai dengan gratis. Lambat laun dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat akan arti penting membaca. Bukan hanya jalan santai yang diselenggarakan tetapi adanya suatu perlombaan karya tulis pada kalangan anak SD, SMP, SMA, Mahasiswa, dan masyarakat.. Dengan adanya perlombaan karya tulis maka akan tumbuh generasi-generasi yang peduli akan arti penting membaca.
Untuk meningkatkan perpustakaan agar tercipta budaya baca masyarakat pemerintah juga berperan aktif dalam meningkatkan perpustakaan. Pemerintah seharusnya memberikan dana yang cukup bagi perpustakaan, dengan dana yang ada maka perpustakaan akan meningkatkan buku-buku yang sesuai dengan perkembangan zaman saat ini. Pemerintah juga harus berperan dalam memberikan sosialisasi kepada masyarakat tentang arti penting membaca dan dapat mensejahterakan para pegawai yang bekerja di perpustakaan.
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Untuk meningkatkan minat baca, harus dimulai dari usia sangat dini karena minat ini tumbuh sebagai hasil kebiasaan membaca. Metode pengajaran di sekolah, dari TK sampai perguruan tinggi, harus diarahkan pada banyak membaca buku untuk mencari lebih banyak informasi/pengetahuan tentang apa yang diajarkan. Tiap sekolah apa pun jenis, jurusan atau tingkatnya harus mempunyai perpustakaan, karena perpustakaan memberi kesempatan sama kepada semua orang/murid/mahasiswa untuk menggunakan buku-buku koleksinya. Dengan cara ini, upaya meningkatkan minat baca akan sangat terbantu.
Peningkatan layanan perpustakaan berupa sarana dan prasarana, maka akan menciptakan masyarakat cinta perpustakaan. Dengan adanya perpustakaan di daerah perkotaan dan daerah terpencil, masyarkat dapat memanfaatkan sarana dan prasarana yang ada di perpustakaan berupa buku dan jasa internet secara gratis tanpa dipungut biaya.
4.2 Saran
Perpustakaan harus meningkatkan kinerjanya dengan memberikan sosialisai atau penyuluhan ke pedesaan atau pendalaman, agar masyarakat yang buta huruf atau tidak bisa membaca dapat membaca dan mengerti akan arti penting membaca dalam kehidupan.
Agar perpustakaan membangun tempat café dan tempat khusus untuk mendengarkan musik. Masyarakat mempunyai berbagai cara dalam menyerap suatu bacaan seperti membaca sambil mendengarkan musik, membaca sambil makan-makanan ringan, membaca diruangan yang sepi (tidak ramai), dan lain sebagainya.
DAFTAR PUSTAKA
Arixs, 2006. Judul Makalah Enam Penyebab Rendahnya Minat Baca. http://www.cybertokoh.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=1063.
Agus M Irkham, 2004. Minat Baca Rendah, Siapa Salah?. http://www.freelists.org/archives/ppi/05-2004/msg00283.html.
Mudjito, 2008. Peran Perpustakaan Dalam Membina Minat Baca. http://massofa.wordpress.com/2008/01/18/peran-perpustakaan-dalam-membina-minat-baca.
Mukhransyah, 2006. Banyak Dikunjungi Mahasiswa, Satu Tahun 100 Buku Tak Kembali. http://www.samarinda.go.id/node/7251.

Meningkatkan Minat Baca Di Perpustakaan Dengan Optimalisasi Pelayanan

Buku mempunyai fungsi yang sangat banyak, contohnya sebagai catatan, bukti sejarah, tempat penuangan gagasan, sumber informasi, tempat pengetahuan dalam bentuk cetak dan referensi ilmiah.
Pentingnya perpustakaan adalah sebagi tempat perawatan dan pendataan buku agar tetap terjaga dari kerusakan. Di tempat inilah orang bisa mencari informasi yang dibutuhkan dari sumber bacaan. Seseorang dapat membaca di tempat dan bisa juga dengan membawanya pulang untuk dibaca di rumah.
Perpustakaan sebagai gudang tempat penyimpanan buku, seharusnya disajikan dengan tampilan yang menarik. Karena bagaimanapun juga, pengunjung memerlukan kenyamanan dalam pelayanannya. Hal inilah yang perlu diperhatikan untuk mengembangkan dan membudayakan masyarakat yang cinta perpustakaan. Pelayanan yang bersifat universal sangat dibutuhkan mengingat bahwa pengunjung perpustakaan berasal dari berbagai tingkat umur dan latar belakang sosial. Mulai dari anak-anak, remaja, orang tua hingga kakek-kakek adalah pengunjung perpustakaan umum. Perpustakaan yang berada di sekolah dan kantor tentu berbeda dengan perpustakaan umum. Kalau perpustakaan sekolah dan kantor, subjeknya jelas yaitu siswa beserta warga sekolah dan seluruh pegawai kantor. Sedangkan perpustakaan umum subjeknya bermacam-macam.
Tantangan datang ketika kita membahas tentang animo masyarakat terhadap perpustakaan. Mulai dari ketidaktahuan masyarakat akan pentingnya pengetahuan dari bentuk literature cetak, kurang menariknya tampilan hingga keengganan seseorang untuk membiasakan membaca. Padahal, kegemaran membaca dalam skala besar dapat dijadikan sebagai ukuran tingkat kemajuan suatu bangsa.
Nah, untuk mengatasi hambatan-hambatan itu, maka perlu adanya usaha dari pemerintah, pengelola dan masyarakat. Salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah dengan mengoptimalkan kinerja pengelola. Optimalisasi kinerja pengelola ini adalah suatu dasar pencitraan perpustakaan. Hal ini dapat dipahami karena seorang pengelola ataupun petugas perpustakaan langsung berhubungan dengan pembaca ketika sedang bertugas. Perlakuan dan tindakan yang mereka berikan kepada pengunjung akan mempengaruhi pandangan pengunjung. Pencitraan yang baik akan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya perpustakaan bagi kemajuan suatu peradaban. Sehingga, sedikit demi sedikit masyarakat yang cinta pustaka dapat menjadi kenyataan dalam memajukan kualitas bangsa ini.
LATAR BELAKANG MASALAH
Sepanjang sejarah umat manusia, membaca adalah aktivitas yang sangat berguna dalam mengembangkan kemampuan berpikirnya. Aktivitas membaca lambang-lambang yang kemudian kita sebut sebagai tuisan ini dimulai ketika manusia menemukan tulisan. Sebelumnya, manusia sudah dapat membaca melalui pertanda-pertanda dan isyarat yang masih sederhana. Keterampilan membaca memberikan sumbangan yang sangat luar biasa dalam mengembangkan teknologi. Aktivitas komunikasi dan hal-hal penting dapat dirangkum dalam tulisan.
Pada tahap selanjutnya, aktivitas membaca dalam bentuk tulisan ini mengalami perkembangan yang penting dengan dibukukannya pemikiran-pemikiran manusia. Hal inilah yang memunculkan terbentuknya sebuah tempat penyimpanan tulisan-tulisan hingga rekaman yang kita sebut sebagai perpustakaan. Suwarno (2007:12) mengungkapkan arti pentingnya perpustakaan bahwa perpustakaan selalu dikaitkan dengan buku, sementara buku dekat dengan kegiatan belajar. Maka, dapat disimpulkan bahwa perpustakaan sangat dekat dengan kegiatan belajar.
Kemajuan suatu bangsa dilihat dari seberapa banyak buku-buku yang dihasilkan. Jepang menerbitkan 100.000 judul buku pertahunnya, India sebagai Negara yang mengalami kemajuan pesat menghasilkan 60.000 judul per tahun (KR,6/12/2008:hal 4). Setelah buku-buku tercetak, permasalahannya adalah siapa saja pembacanya dan bagaimanakah penyimpanan buku-buku tersebut. Tingkat pendidikan dan jenis buku menetukan siapa saja subjek pembaca yang dituju. Semakin banyak perpustakaan menyediakan bacaan, maka semakin banyak pula orang-orang yang akan berkunjung.
Kebiasaan membaca dapat meningkatkan kemajuan, kesejahteraan dan pemikiran masyarakat. Untuk merealisasikan hal tersebut, maka perlu adanya usaha bersama. Tingkat kesadaran masyarakat yang masih rendah untuk mengunjungi perpustakaan merupakan kendala umum yang dialami pengelola perpustakaan. Faktor yang menyebabkan hal tersebut di antaranya adalah jarak perpustakaan dengan rumah, kurangnya sosialisasi tentang profil perpustakaan hingga minat baca masyarakat yang rendah.
Untuk mengatasi permasalahan itu dan menemukan solusinya maka diperlukan kerja sama antara pemerintah dan masyarakat. Pemerintah sebagai pengambil kebijakan dan pengelola perpustakaan sudah seharusnya memiliki inisiatif program agar keberadaan perpustakaan diketahui oleh masyarakat di daerahnya. Hal ini sangat penting karena perpustakaan dapat menyalurkan informasi teknologi, pemerintahan hingga sosialisasi program-program kemasyarakatan. Pemerintah, dalam hal ini pengelola institusi perpustakaan harus bekerja sama untuk menjalin komunikasi. Dengan kerja sama ini, harapannya minat masyarakat untuk mengunjungi perpustakaan semakin meningkat.
TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan penulisan ini dalah untuk :
1. Menyumbangkan pemikiran tentang strategi agar masyarakat semaki mengenal perpustakaan di daerahnya.
2. Membantu pihak perpustakaan untuk menginformasikan arti pentingnya perpustakaan demi meningkatkan informasi tentang kemajuan teknologi dalam berbagai bidang.
3. Meningkatkan kemauan membaca masyarakat di perpustakaan.
LANDASAN TEORI
1. Minat baca masyarakat
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia minat diartikan sebagai kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu, gairah, keinginan (Depdikbud,1991:656). Menurut Whitterington, minat adalah kesadaran seseorang, bahwa suatu objek, seseorang, suatu soal atau suatu situasi mengandung sangkut paut dengan dirinya (1985:135). Sedangkan menurut Crow (dalam Siswoyo:2008), minat sangat erat kaitannya dengan dorongan, motif dan reaksi emosional. Minat bagi seseorang dapat timbul melalui kegiatan praktik mengamati, mencoba-coba dan melakukan inovasi. Minat juga dapat berhubungan dengan dorongan seseorang untuk menghadapi sesuatu.
Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa minat adalah suatu dorongan secara sadar yang memunculkan motif untuk melakukan sesuatu. Minat juga menjadi sebab terjadinya suatu tindakan atau motif sehingga seseorang melakukan reaksi emosional yang direncanakan maupun spontan.
2. Pengertian Perpustakaan
Perpustakaan berasal dari kata dasar pustaka. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud:1991), pustaka artinya kitab atau buku. Dalam bahasa Inggris, perpustakaan dinyatakan dengan library. Istilah ini berasal dari kata latin libri . Dari kata latin tersebut terbentuklah istilah libraries, tentang buku. Dalam bahasa asing lainnya, perpustakaan disebut bibliotheca (Belanda), yang juga berasal dari bahasa Yunani biblia yang artinya tentang buku, kitab.
Batasan istilah perpustakaan adalah sebuah gedung ataupun gedung itu sendiri yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya yang biasa disimpan menurut tata susunan tertentu untuk digunakan pembaca, bukan untuk dijual (Suwarno:1991,3)
Dalam undang-undang No. 43 tahun 2007, perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak dan/atau karya rekam secara professional dengan sistem yang baku, guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi dan rekreasi para pemustaka.
Dari beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa perpustakaan adalah tempat yang digunakan untuk menyimpan buku dan bahan tulisan baik dalam bentuk cetak maupun elektronik dengan susunan tertentu untuk dibaca. Perpustakaan juga dapat digunakan sebagai ruang transformasi melalui informasi di dalamnya.
3. Hakikat Perpustakaan
Perpustakaan sebagai tempat menyimpan bermacam-macam buku memiliki andil yang sangat besar bagi pencerahan, pertukaran informasi dan ilmu pengetahuan kepada masyarakat. Hakikat perpustakaan adalah sebagai sarana pelestarian bahan pustaka. Dalam hal ini peran bahan pustaka adalah sebagai hasil budaya dan mempunyai fungsi sebagai sumber informasi, ilmu pengetahuan, teknologi dan kebudayaan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan menunjang pelaksanaan pembangunan nasional.
PEMBAHASAN
Kesulitan utama ketika kita membicarakan tentang minat baca masyarakat terhadap perpustakaan adalah kenyataan bahwa kebiasaan membaca belum menjadi kebutuhan dalam masyarakat kita. Sebagian masyarakat berpandangan bahwa kegiatan membaca hanya diperuntukan bagi para pelajar dan orang-orang yang duduk di kantoran. Padahal, kita juga tahu bahwa sebagian besar anggota masyarakat masih berpendidikan rendah. Ada yang lulusan SD, SMP, SMA, sedangkan yang mengenyam bangku perkuliahan masih sedikit.
Kondisi ini sedikit banyak telah menyebabkan tingkat kegemaran membaca rata-rata oleh masyarakat masih rendah. Jangankan pergi ke perpustakaan, untuk membaca koran yang telah tersedia di papan-papan pinggir jalan pun masih sedikit. Padahal, sebenarnya banyak informasi yang dapat dimanfaatkan oleh semua lapisan masyarakat dari surat kabar.
Jadi, sebenarnya pemerintah dalam hal ini pengelola institusi perpustakaan daerah memiliki banyak pekerjaan rumah untuk memasyarakatkan perpustakaan. Dalam hal ini pemerintah dituntut untuk mencitrakan perpustakaan agar tidak hanya dianggap berguna bagi pelajar atau orang-orang berpendidikan, tetapi dapat menjamah seluruh lapisan masyarakat. Meski dengan porsi yang berbeda-beda dan bertahap.
Melihat permasalahan ini, maka ada beberapa hal yang perlu dibenahi dalam pengelolaan perpustakaan agar dapat memasyarakat. Kita harus selalu ingat bahwa kemajuan suatu masyarakat itu juga didukung oleh kesadaran membaca masyarakat yang tinggi. Kesadaran membaca yang tinggi ini secara otomatis akan mempercepat pertukaran dan transfer informasi tentang perkembangan ilmu pengetahuan. Optimalisasi pelayanan menjadi kunci penting dalam meningkatkan minat baca masyarakat di perpustakaan. Susanto (2009), mengatakan bahwa untuk menarik minat masyarakat, maka pihak pengelola perpustakaan harus mengedepankan kepuasan kepada pelanggan atau pemustaka, di mana ketika datang di ruangan perpustakaan disapa dengan ramah, senyum, sopan, dilayani dengan cepat dan sapaan, “ Apa yang dapat kami bantu ?”
Namun, pada kenyataannya masih banyak petugas yang tidak mengedepankan prinsip ini. Nah, untuk itu perlu sekiranya pelayanan itu semakin ditingkatkan karena pengunjung adalah denyut nadi dari keberadaan suatu perpustakaan. Pertama, dengan adanya penguatan di antara petugas dengan peningkatan frekuensi komunikasi yang efektif. Komunikasi yang baik akan membuat koordinasi antar petugas menjadi lancar dan memungkinkan pelayanan dapat terus meningkat dan optimal. Salah satu kegiatan yang digunakan untuk mengakrabkan pengelola adalah dengan melaksanakan out bond. Di samping untuk menyegarkan otak, kegiatan ini juga dapat mendekatkan masing-masing individu.
Kedua, dengan koranisasi di depan kantor perpustakaan. Pengalaman yang biasa di perpustakaan adalah bahwa koran ditaruh di dalam perpustakaan dan disatukan tiap halaman suatu surat kabar. Akibatnya, pembaca harus bergantian untuk menunggu giliran membaca. Solusinya adalah dengan pengadaan papan baca di sebelah kanan dan kiri perpustakaan. Tidak perlu semua jenis koran, tetapi paling tidak yang membahas banyak tentang wilayah (lokal). Hal ini sangat penting dan diperlukan sebagai penarik minat masyarakat untuk datang ke perpustakaan. Di samping itu, secara perlahan keberadaan perpustakaan akan semakin diterima oleh semua golongan usia masyarakat dengan terlihatnya aktivitas membaca dari luar lingkungan perpustakaan.
Setelah minat masyarakat tumbuh, maka yang perlu dilakukan selanjutnya adalah dengan penambahan koleksi bacaan. Bacaan yang bervariasi sesuai dengan kebutuhan masyarakat akan menyadarkan pentingnya perpustakaan sebagai tempat pertukaran informasi dan pengetahuan secara sedikit demi sedikit.
Tentunya semua usaha tak akan lepas dari kesalahan. Maka, langkah keempat adalah dengan pengadaan kotak aspirasi. Penyaluran aspirasi perlu mendapat tanggapan langsung dari pengunjung. Bagaimanapun, pengunjung adalah orang yang menikmati dan merasakan pelayanan yang telah diberikan dari pengelola perpustakaan. Segala kenyamanan akan mempengaruhi data dan peningkatan minat masyarakat untuk mengunjungi.
Pelayanan yang baik mengurangi biaya operasional untuk alokasi sosialisasi. Pasalnya, ketika seseorang menganggap bahwa pelayanan di perpustakaan nyaman, maka mereka akan menginformasikannya pada orang lain. Orang tersebut kemudian tertarik untuk membuktikan, jika cocok maka tidak menutup kemungkinan bahwa sosialisasi terhadap citra perpustakaan ini akan menarik banyak pembaca. Tentu saja optimalisasi pelayanan ini tergantung dari komitmen dari pihak pengelola perpustakaan. Kreativitas peningkatan pelayanan menjadi nilai lebih dalam rangka peningkatan kinerja.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2008. Dicari : Guru yang Bisa Menulis. Yogyakarta : Kedaulatan Rakyat, edisi 06 Desember 2008
Depdikbud. 1991. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka
Siswoyo, Dwi. 2008. Ilmu Pendidikan. Yogyakarta : UNY Press
Suwarno, Wiji. 2007. Dasar-Dasar Ilmu Perpustakaan : Sebuah Pendekatan Praktis. Yogyakarta : Ar-ruz Media
Whitterington1985. Psikologi Pendidikan.terj. M.Buchori, Jakarta: Angkasa Baru
Depdagri. 2007. Undang-Undang Republik Indonesia tentang Perpustakaan. http://www.depdagri.go.id. Diambil pada hari Sabtu, 19 September 2009
Susanto, Eddy. 2009. Peningkatan Minat Baca Masyarakat di Kabupaten Bantul. http://perpustakaan.bantulkab.go.id.